Susi is Here…

Agustus 15, 2008

Pagi ini Aku Berpikir

Filed under: renungan — Tag: — susirahmawati @ 2:06 pm

Bagaimana jika tiba-tiba Tuhan lupa untuk mengembalikan nyawaku ke tubuhku yang sedang tidur?
Untungnya, Tuhan Tak Pernah Lupa

Bagaimana jika tiba-tiba Tuhan minta kita membayar kerja ginjal kita seharga cuci darah tiap pekan 2x?
Untunglah Tuhan Tidak pernah perhitungan

Bagaimana jika tiba-tiba Tuhan mengambil semua oksigen di bumi karena ia ngambek akibat terlalu banyak manusia yg tidak mematuhinya?
Untungnya Tuhan kita tidak pernah ngambek

Bagaimana jika Tuhan menghentikan rejeki untuk kita karena ia kehabisan nikmat utk kita?
Untungnya Tuhan kita Maha Kaya

Bagaimana jika suatu ketika kita berdoa, Tuhan bilang, “maaf, Saya sedang tidak ingin diganggu”?
Untungnya Tuhan Maha Mengabulkan Doa

Bagaimana jika suatu saat Tuhan kehabisan ide menciptakan variasi wajah dan karakter manusia? Bisa2 manusia2 yg baru lahir akan sama wajah dan karakternya..
Untungnya Tuhan kita Maha Kreatif..

Ah, Subhanallah, walhamdulillah, wa laa ilaaha illallah, allahu akbar! Maha Sempurna Allah SWT

Agustus 14, 2008

Thanks, My Parents..

Filed under: renungan — susirahmawati @ 3:31 am

Saat aku masih kanak-kanak, aku sering terluka
Tapi aku tetap lincah karena ada perawat dan dokter pribadiku
Saat aku masih kecil, kerjaku hanya bermain
Tak pernah peduli apakah wanita mulia di sisiku sudah lelah,
apakah lelaki perkasa yang berada di dekatku telah berpeluh keringat

Saat aku memasuki usia remaja, aku mulai mengenal arti persahabatan dan
rasa suka dengan lawan jenis
Saat itu kerjaku hanya bergaul dan beraktivitas tanpa peduli
kekhawatiran yang melingkupi hati dan pikiran dua manusia yang
menyayangiku

Saat aku beranjak dewasa, aku mulai mengerti hakikat hidup ini.
Aku mulai mengalami banyak cobaan hidup yang berat
Tetapi setiap kali aku merasa terpojok, aku tak pernah merasa sendiri
karena selalu ada dua insan yang senantiasa mendukung dan memberikan
kasih sayangnya yang sempurna dan tak pernah berkurang sedikit pun

Saat aku telah menikah dan memliki anak, banyak hal baru yang berubah. Namun kasih sayang kedua orang tuaku tak jua berkurang.

I Love U Bunda, I Love U Ayah…

Menjadi Bahagia adalah Pilihan

Filed under: Migration, other blog — Tag: — susirahmawati @ 3:27 am

” Duh… Panas banget ya?!? Ampun deh… Enak kali ya kalo ujan…” kata Irma suatu ketika. Di kesempatan lain, ” Ya ampun,,, kok ujan sih?? Mana lupa bawa payung…Kan jadi ga bisa pulang.. ”

Apakah kita sering seperti Irma???

Melihat Anto yang kipas-kipas namun tetap tenang membaca, sedangkan Andi gelisah karena merasa hari ini demikian panasnya, Andi penasaran, “To, kok loe tenang aja sih? Emang ga gerah apa??” tanyanya. Dengan ringan Anto menjawab, ” Ya gerahlah… kalo nggak ngapain gw kipas2??” Andi nyengir, sambil manggut dia bilang,” Tapi kok elo bisa tetap tenang baca.. Gw rasanya pengen mandi….Huh.. ” ” Ya, Ndi, kalo ga ada panas, ga akan ada ujan kan di pegunungan sana?Means ga ada sawah dan kebun yang tersiram ujan.. Lagipula apa elo mau tinggal di kutub yang ga pernah ketemu matahari? Lagian, ngeluh ga akan bikin cuaca jadi tiba-tiba sejukkan?! Malah makin gerah krn gelisah…” jelas Anto. 1 jam kemudian, tiba-tiba hujan deras turun. “Alhamdulillah… senengnya..” belum selesai Anto berbicara, terdengar suara Andi, “Ah, sial! Baru mau pulang malah ujan!??” mendengar itu Anto geleng-geleng kepala. “Ndi, ndi… bersyukurlah sedikit… Tadi minta ujan, pas ujan malah ngeluh lagi…”

Apakah kita seperti Andi atau Anto???

“Mas,,, kasih aku pembantu rumah tangga kek…!!Capek nih aku ngurus Sita dan Yani sambil harus tetap nyuci, nyetrika, bebenah, masak… Lama-lama aku bisa sakit nih! Belum lagi kalo si mungil Sasa nangis mulu..” “Ma,, kakakmu Ira bisa kok ngurus 8 anaknya tanpa pembantu.. kayaknya seneng-senang aja, malah ditambah harus jaga warung lagi..” “Aduh mas ini… aku minta ada pembantu, bukan untuk dibanding-bandingkan! Sebel” Ina pun pergi keluar rumah. “Huh… rumah udah kayak neraka…!” Sang suami hanya bisa mengelus dada, “Astaghfirullah…”

Seperti apakah keseharian Anda, para Ibu? Merasa dalam neraka dengan 3 anak, atau happy-happy aja dengan 8 anak?

Tiga cerita di atas sedikit banyak merefleksikan kehidupan kita sehari-hari : Apakah kita merasa bahagia dengan keadaan ataukah selalu gusar? Padahal jika kita lihat Andi dan Anto juga Irma hidup pada kota dengan cuaca dan iklim yang sama.. Ira dan Ina juga menjalankan tugas yang sama sebagai seorang istri sekaligus ibu, bahkan Ira memiliki beban yang lebih berat. Tapi mengapa Anto dan Ira bisa bahagia sedangkan yang lain tidak??? Jawabannya karena Anto dan Ira memilih untuk menjadi bahagia dengan mensyukuri segala yang ada tanpa mengeluh. Ya, menjadi bahagia itu adalah pilihan….

Saya jadi teringat seorang teman. Teman yang mengajari banyak hal, terutama tentang menjalani hidup dengan bahagia bagaimana pun keadaannya, sebutlah ia M. M adalah seorang pria yang selalu terlihat ceria, bersemangat, jarang sekali orang melihatnya sedih bahkan saat kami mengunjungi rumahnya untuk menyatakan turut berduka atas kematian ayahnya. Saat itu aku salut sekali karena mereka sekeluarga begitu tabah, meskipun pasti mereka tetap merasa sedih.

Suatu ketika aku memiliki kesempatan berbincang-bincang dengannya. “Untuk bayar utang ke si A 400, B 300, C 200,, abis deh uang gw…” “Utang elo banyak juga, ya M! Ngutang mulu sih…”kataku. M tersenyum sambil berkata, “Maklum, anak kost. Gw juga emg ga bisa nahan diri sih kalo punya duit, pengennya beli buku, mp3 player, macem2 deh…” “Makanya, jgn diturutin aja..” kataku agak menyalahkan. Saat itu aku masih berpikir dia ngutang-ngutang karena mungkin uangnya sudah habis sedangkan “kiriman” ortunya belum datang. Tapi, setelah kami ngobrol agak panjang, aku baru tau bahwa ternyata setelah ayahnya meninggal ia harus menghidupi dirinya sendiri: bayar kos, uang SPP, buku kuliah, ongkos, makan, semua! Dan ia memperoleh uang dari beasiswa juga proyek2 yang dilakukannya.. Subhanallah.. dan taukah kamu?dia menceritakan kisahnya tanpa terlihat sedih sedikit pun!Benar-benar luar biasa! Maafkan aku, M, telah suuzhan..

Pada kesempatan yang lain ia menceritakan kisah keluarganya saat kebajiran. Banjir di rumahnya mencapai setinggi leher sehingga mereka harus beraktivitas di atas meja. Dia terus menceritakan keadaan-keadaan yang menyedihkan (bagi kebanyakan orang) dengan riang gembira!! M memang benar2 memilih untuk menjadi bahagia!

Aku benar2 kagum dan belajar banyak dari M. Ternyata, selama ini sedikit sekali aku bersyukur… Terkadang kita yang hidup berkecukupan, masih terus mengeluh. Apalagi pada saat mendapatkan keburukan. Misalnya pada saat harus kehilangan barang kesayangan, motor misalnya. Kita terus menyalahkan diri sendiri (menyadari kesalahan adalah baik, tapi untuk memperbaiki diri bukan untuk terus menyalahkan diri sendiri), mencaci maki sang pencuri, merasa diri orang paling sial, parahnya lagi menyalahkan takdir! Padahal dengan begitu motor takkan kembali, bahkan kita harus menanggung dosa karena mencaci dan menyalahkan Tuhan. Mengapa kita tidak bersabar dengan berpikir positif (Mungkin aku lupa sedekah, jadi Tuhan menegurku) dan doakan si pencuri (kali aja dia insaf trus ngembaliin motor kita). Emang sih kemungkinan motor kita kembali tetap kecil,, tapi bukankah dengan bersabar kita menjadi tenang dan menambah catatan kebaikan kita??? Ah, teori….yup, prakteknya memang sulit.. Kita pasti sedih, emosi kalo mengalami keburukan.. Boleh, boleh banget krn itu manusiawi. Namun, bukankah lebih baik jika kita tidak larut dalam kesedihan, kemudian bersabar dan berpikir positif??

Ketenangan dan kebahagiaan hidup memang hanya akan kita dapatkan jika kita bisa bersyukur dengan keadaan kita dan bersabar dengan segala musibah. Tak perlu jauh-jauh pergi keluar negeri untuk mencari kebahagian. Karena kebahagiaan ada di sini, di hati ini… Pada rasa syukur dan sabar yang kita pilih.

Maka, manakah yang kau pilih??? Itu terserah…

Sepi

Filed under: Migration, other blog — susirahmawati @ 3:03 am

Sepi itu sedih, sakit.
Sendiri,tanpa teman di sisi..
Tak ada yang peduli
dengan gundahku saat ini..
Sepi, merajut mimpi dan kenangan
Berharap Lebih pada khayalan
Memeluk Erat Kedamaian
Menyelami Kebersamaan yang telah lalu
Tapi inilah keadaan yang harus dihadapi,
Sunyi tanpa berbagi
Bersiaplah datangnya badai yang menyakiti jiwa

Setiap kita mungkin pernah merasa sendiri.Merasa kesepian di tengah

ramainya dunia.Di tengah kesibukan yang melanda. Jika rasa itu hanya

hadir sesekali, sepertinya itu adalah hal yang wajar. Tetapi bagaiman

jika rasa itu hadir begitu lama di hati kita? Mengapa sepi itu hadir?

Ketika seseorang merasa membutuhkan teman untuk berbagi tetapi

sepertinya tak ada satu pun yang peduli. Tapi benarkah demikian?

Sudahkah kita mencoba membuka diri kita pada orang lain?

Jangan-jangan itu hanya perasaan kita saja, prasangka buruk kita

terhadap teman2 kita. Tapi, apakah kita harus berbagi dengan orang

yang belum tentu bisa dipercaya? Hm.. kita bisa memulainya untuk

menceritakan hal2 yang bersifat tidak pribadi dulu dan minta dia

merahasiakannya. Kemudian lihat respon dia dan tindakannya. Hal itu

akan membantu kita melihat apakah ia bisa dipercaya dan asik

dijadikan tempat berbagi. Kesepian itu sebenarnya juga bisa diusir

dengan menghadirkan hati dan pikiran di setiap aktivitas yang kita

jalankan. Berkontribusilah secara maksimal pada setiap organisasi

atau aktivitas yang kita terlibat di dalamnya. Temukan banyak orang

dengan berbagai karakter yang unik. Temukanlah pribadi yang paling

tepat untuk dijadikan teman dekat. Tak kunjung menemukan? jangan

putus asa. Terus mencari. Dengan mencari saja sulit didapat, apalagi

hanya berpangku tangan? Tak menemukan juga? La tahzan, Jangan

bersedih..mungkin Allah hendak menjadikan dirimu sesosok pribadi yang

kuat, yang tangguh menghadapi kerasnya hidup ini seorang diri hingga

kau temukan sang teman sejati. Bersabarlah menanti saatnya berbuka.

Layaknya seseorang yang sedang berpuasa , tak ada kebahagiaan

melebihi saat berbuka. Demikian pula dengan puasa menahan diri hingga

dirimu mampu untuk menyempurnakan separuh dien. Wahai Sang Pemilik

Kekuatan, berilah kami kekuatan menjalankan semua ini. Duhai Sang

Pembolak-balik hati, tetapkanlah hati kami dalam dien-Mu dan ketaatan

kepadaMu. ya Allah..berikanlah kami keikhlasan hati menerima segala

ketentuanMu. Keep fighting, friends!!Innallaha ma’ana

Tentang Dia

Filed under: Migration, other blog — susirahmawati @ 2:39 am

Kamu tau arti sahabat?Aku takkan membahas arti normatifnya. Bagiku, sahabat adalah seseorang yang bisa mengerti aku. Menjadi my shoulder to cry on, always there every time i need someone to hold on. Seseorang tempatku berbagi apapun, berbagi kebahagiaan, kesedihan, kegundahan. Bahkan mungkin jika persabahatan itu sudah sedemikian dekat, seperti sudah tidak ada lagi rahasia dia antara kita (kecuali untuk hal2 yg sangat sangat pribadi)
IMO,sahabat sejati adalah seseorang yang tetap menjadi sahabat meskipun kita tak lagi berada dalam satu komunitas, meski jarang kita menghabiskan waktu bersama. Bisa jadi tempat kuliah kita berbeda, yang satu di Depok satu lagi di salemba. Meski tak setiap hari bertemu atau memberi kabar, tapi setiap kali mengalami sesuatu yang perlu dibagi, kita yakin ada seseorang yang akan selalu siap menjadi tempat berbagi. tak hanya suka, tapi juga duka dan kegundahan hati. IMO, bagiku memiliki sahabat != menjadi sahabat. Bisa jadi kita merasa punya sahabat, tapi dia tidak menganggap kita sahabatnya. Bukannya dia jahat, tentu dia sangat baik krn senantiasa bersedia mjd tempat curhat kita . Tapi mungkin dia merasa kita belum bisa 100% bisa dijadikan t4 curhatnya. Mungkin karena kita terlalu rapuh menurutnya, atau dia terlalu menyayangi kita. Dia tau kita memiliki berjuta masalah dan tak ingin menambah beban kita dengan masalahnya. Tapi tidak, FYI bagiku itu bukan persahabatan. Bagiku persahabatan sejati adalah take and give. dan itulah harta yang sangat berharga. Ketika kita tidak hanya bisa berbagi rasa,tapi juga merasakan kebahagiaan dan kesedihan yang sama dengan sahabat kita. ketika kita merasa sangat berarti karena telah dipercaya untuk mengetahui kisah sahabat kita dan mungkin membantunya meredakan gundah di hatinya.Satu hal yang paling penting. Sahabat adalah orang yang bisa menjadi cermin bagi kita. Kamu tau cermin kan?cermin tak pernah berdusta akan wajah kita. Saat ada noda di wajah kita, tentu ia akan memperlihatkannya dan membuat kita tersadar, ada yang harus dibersihkan. Begitu pula sahabat. Saat ada suatu keburukan yang kita punya ataupun kekhilafan yang kita lakukan, ia akan selalu mengigatkan dan membantu kita memperbaiki diri kita, vice versa. Sahabat sejati adalah seseorang yang dengannya di sisi membuat hubungan kita denganNYA semakin dekat. Indahnya persabahatan. Betapa beruntungnya aku memiliki sahabat dan menjadi sahabat.
Kamu percaya persahabatan itu ada?banyak orang yang percaya bahwa tidak ada persahabatan yang sejati. Seorang sahabatku pernah bilang, “Kenapa ya, persahabatan itu sering terbatas ruang dan waktu? Bersahabat hanya saat berada dalam satu komunitas, bersahabat hanya saat memiliki masalah. Ketika masalah itu selesai atau ketika sudah tak lagi berada dalam komunitas yang sama, maka hancurlah persabahatan itu.” Entahlah..IMO, persahabatan sejati itu ada. Tapi, sebagaimana dunia, tak ada persahabatan yang abadi. Persahabatan pada suatu waktu akan pudar bahkan mungkin hilang. Bisa jadi karena kedatangan malaikat izrail pada salah satu/kedua pihak, bisa jadi karena kondisi yang memaksa.

Perkenankan Aku MencintaiMU Semampuku

Filed under: Migration, other blog, renungan — Tag: — susirahmawati @ 2:35 am

Tuhanku,

aku masih ingat saat pertama dulu
aku belajar mencintaMU..
Lembar demi lembar kitab kupelajari..
Untia demi untai kata para ustadz kuresapi..
Tentang cinta para nabi
Tentang kasih para sahabat
Tentang mahabbah para sufi
Tentang kerinduan para syuhada

Lalu kutanam di jiwa dalam-dalam
Kutumbuhkan dalam mimpi-mimpi dan idealisme
yang mengawan di awan..

tapi Rabbi..
Berbilang detik, menit, jam, hari, pekan, bulan,
dan kemudian tahun berlalu..
Aku berusaha mencintaiMU dengan cinta yang paling utama, tapi..
Aku masih juga tak menemukan cinta tertinggi untukMU..
Aku makin merasakan gelisahku membadai
dalam cinta yang mengawang
Sedang kakiku mengambang, tiada menjejak bumi..
Hingga aku terhempas dalam jurang
dalam kegelapan…

Wahai Ilahi,
Kemudian berbilang detik, menit, jam, hari,
pekan, bulan, dan tahun berlalu..
Aku mencoba merangkak, menggapai permukaan bumi,
dan menegakkan jiwaku kembali
Menatap, memohon, dan menghibaMU:
Allahu Rahim..Ilaahi Rabbi..
Perkenankanlah aku mencintaiMU,
semampuku
Allahu Rahman..Ilaahi Rabbi..
Perkenankanlah aku mencintaiMU,
sebisaku
dengan segala kelemahanku

Ilahi,
Aku tak sanggup mencintaiMU
dengan kesabaran menanggung derita
Seumpama Nabi Ayyub, Musa, Isa, hingga al-Musthafa
Karena itu izinkan aku mencintaiMU
Melalui keluh kesah pengaduanku kepadaMU
Atas derita batin dan jasadku
Atas sakit dan ketakutanku..

Rabbi,
aku tak sanggup mencintaimu seperti Abu Bakar,
yang menyedekahkan seluruh hartanya
dan hanya meninggalkan Engkau dan RasulMU
bagi diri dan keluarganya.
Atau layaknya Umar yang menyerahkan separuh harta demi jihad
Atau Utsman yang menyerahkan 100 ekor kuda
untuk syiarkan dienMU
Izinkan aku mencintaMu
Melalui seratus-dua ratus perak
yang terulur pada tangan-tangan kecil di perempatan jalan,
pada wanita-wanita tua yang menadahkan tangan di pojok-pojok jembatan
pada makanan-makanan sederhana yang terkirim ke handai taulan

Ilahi,
aku tak sanggup mencintaiMU
dengan khusy’nya shalat salah seorang shahabat Nabi Muhammad
hingga tiada terasa anak panah musuh terhujam di kakinya
Karena itu ya Allah,
perkenankanlah aku tertatih menggapai cintaMU
dalam sholat yang kudirikan terbata-bata,
meski ingatan kadang melayang ke berbagai permasalahan dunia

Rabbi,
aku tak dapat beribadah ala para sufi dan rahib,
yang membaktikan seluruh malamnya untuk bercinta denganMU
Maka izinkanlah aku untuk mencintaiMU
dalam satu-dua rakaat lailku
dalam satu-dua sunnah nafilahMU
dalam desah nafas kepasrahan tidurku

Ya Maha Rahman..
aku tak sanggup mencintaiMU bagai para al-Hafizd dan Hafidzah
yang menuntaskan kalamMU dalam satu putaran malam
Perkenankanlah aku mencitaiMU
melalui selembar dua lembar tilawah harianku
Lewat lantunan seayat dua ayat hafalanku

Yaa Rahim…
Aku tak sanggup mencintaiMU semisal Sumayyah
yang mempersembahkan jiwa demi tegaknya dienMU
Seandai para syuhada yang mmenjual dirinya dalam jihadnya bagiMU
Maka perkenankanlah aku mencintaiMU
dengan mempersembahkan sedikit bakti dan pengorbanan untuk da’wahMU
Maka izinkanlah aku mencintaiMu
dengan sedikit pengajaran bagi tumbuhnya generasi baru

Allahu Karim..
aku tak sanggup mencintaiMu di atas segalanya
bagai Ibrahin yang rela tinggalkan putra dan zaujahnya
dan patuh mengorbankan pemuda biji matanya
Maka izinkanlah aku mencintaiMU di dalam segalanya
Izinkanlah aku mencintaMU dengan mencintai keluargaku,
dengan mencnitai sahabat-sahabatku,
dengan mencintai manusia dan alam semesta

Allahu Rahmanurrahim..Ilaahi Rabbi..
Perkenankanlah aku mencintaiMU semampuku

My First Post

Filed under: Uncategorized — susirahmawati @ 1:44 am

Hello..

I’m using wordpress now! Learn to writing something worthy, at least for my self.

Thanks for coming and leaving your comment(s)…:)

Happy reading!

Regards,

Susi Rahmawati Murti Suryaningrat

Tema: Banana Smoothie. Blog pada WordPress.com.

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.